RADAR NUSANTARA POST SURABAYA – Janji “Samsat Bebas Calo” di Samsat Surabaya Timur diduga hanya sebatas jargon. Fakta di lapangan menunjukkan calo justru berlomba mencari mangsa, terutama di area parkir. Modusnya: “paket” untuk meloloskan pengurusan pajak kendaraan bermotor.
Ironisnya, praktik ini diduga kuat melibatkan oknum berseragam. Masyarakat yang taat pajak dan membawa dokumen lengkap tetap dipersulit birokrasi berbelit, membuka celah pungutan liar (pungli).
*Ditolak Meski Dokumen Lengkap, Diarahkan ke Oknum “S”* Seorang jurnalis yang mengurus pajak kendaraan roda dua milik keluarga mengaku menjadi korban. Meski membawa persyaratan lengkap—KTP asli, BPKB asli, STNK asli—serta menghadirkan kendaraan untuk cek fisik, berkasnya tetap ditolak di loket.
“Saya justru diarahkan menghadap oknum berinisial ‘S’ di bagian Sipil Kepolisian untuk minta ACC,” ujarnya. Saat dikonfirmasi, oknum tersebut berdalih “aturan”. Aturan yang diduga kuat dibuat-buat untuk memuluskan praktik “paket”.
Berdasarkan informasi yang dihimpun di lapangan, oknum “S” diduga kuat merupakan koordinator para calo. Salah satu calo yang biasa mangkal, berinisial “Bj”, bahkan terang-terangan menawarkan, “Bayar di situ, Mas, paket.”
*“Polantas Menyapa” Dinilai Gagal, Pejabat Bungkam*
Program “Polantas Menyapa” yang digadang-gadang mempermudah masyarakat membayar pajak kendaraan justru dinilai gagal. Alih-alih memberi pelayanan cepat dan transparan, masyarakat malah dihadapkan birokrasi rumit yang rawan pungli.
Padahal, masyarakat taat pajak seharusnya mendapat pelayanan maksimal. Ketaatan mereka membayar pajak berkontribusi langsung pada Pendapatan Asli Daerah (PAD) untuk pembangunan.
Saat dikonfirmasi terkait dugaan ini, sejumlah pejabat berwenang memilih bungkam. Konfirmasi yang dilayangkan awak media kepada Dirlantas, Kasatlantas,, hingga Paur, tidak mendapat respons.
Sebagai Kontrol Sosial, Haruskah Diam?
Praktik ini mencederai kepercayaan publik. Masyarakat tidak meminta uang, mereka hendak membayar pajak. Namun justru dibodohi oleh oknum “bajingan berseragam” yang lupa pada sumpah dan perannya sebagai pelayan masyarakat.
Kasus ini akan terus dikawal hingga ada tindakan tegas. Publik menanti, apakah jargon “Samsat Bebas Calo” benar-benar diwujudkan, atau hanya mimpi di siang bolong. Jurnalis isw89
