
Radar Nusantara Post Surabaya, kota terbesar kedua di Indonesia, telah membuktikan kedewasaannya dan kematangannya sebagai kota yang beragam dan inklusif. Kota ini adalah potret kecil kebhinekaan Indonesia, di mana berbagai suku dan kelompok masyarakat hidup bersama dalam harmoni.
Gus Lutfi, seorang tokoh muda Jawa Timur dan Sekjen IPPAMA, mengajak seluruh warga Surabaya untuk bersatu dan menjaga kota ini sebagai rumah bersama. “Surabaya adalah rumah besar bersama, banyak suku dan kelompok masyarakat yang ada di Surabaya, jadi tolong kepada siapapun untuk bisa bergotong royong menjaga dan merawat Surabaya sebagai rumah kita bersama,” katanya.

Gus Lutfi menekankan pentingnya menjaga dinamika politik dan sosial masyarakat yang kurang baik akhir-akhir ini. Ia mengajak warga Surabaya untuk rukun, guyub, dan bersatu, serta menolak siapapun yang ingin memecah belah masyarakat.
“Jangan ada propaganda, atau apapun itu, yang bisa menjadikan potensi perpecahan sesama warga masyarakat kota Surabaya,” tegasnya.
Gus Lutfi juga mengajak para pemimpin ormas, intelektual, aktivis, dan pergerakan di bidang sosial maupun politik untuk tidak latah dalam menyampaikan pikiran atau statement di ranah umum atau publik.
“Surabaya merdeka bukan dari satu suku, atau kelompok masyarakat agama tertentu. Tapi Surabaya merdeka dari pekikan takbir, keyakinan dan darah lintas suku dan agama kala itu,” katanya.
Gus Lutfi mengajak warga Surabaya untuk saling menjaga, merawat, dan memajukan kota ini. “Surabaya bukan hanya sekedar kota, tapi juga ‘RUMAH’ bagi kita semua,” pungkasnya.
Jurnalis Gus Ltf
