Surabaya, – Radar Nusantara Post, Tidak ada satu kata pun yang keluar dari lisan mulia beliau untuk merespons “ungkapan nakal” penulis saat itu. Seperti biasa, beliau hanya tersenyum simpul dengan gayanya yang khas.
Tapi, saya paham Kiai Miftah. Saya mengenal beliau sejak 2007. Dan, senyum itu sangat bermakna. Bagi kalangan santri, senyum itu adalah sebuah isyarat. Bagi santri seperti kami, orang yang berakal cukuplah dijawab dengan isyarat (al-âqil yakfî bi-l isyârah).
Dengan naik taksi online, Kiai Miftah ingin mengirim pesan moral, bahwa konsesi tambang itu diberikan oleh pemerintah bukan untuk dinikmati perorangan. Ia diberikan oleh pemerintah kepada NU, untuk dikelola bagi sebesar-besarnya maslahat umat.
Dalam sebuah hadits diceritakan, ada seorang lelaki yang datang kepada Rasulullah SAW dan meminta petunjuk (baca: resep) agar dicintai Allah sekaligus dicintai manusia. Rasulullah SAW pun menjawab, “Bersikaplah zuhud terhadap dunia, niscaya Allah akan mencintaimu. Dan bersikaplah zuhud terhadap apa yang ada pada manusia, niscaya mereka akan mencintaimu.” (HR Ibnu Majah)
Menyimak hadits itu dan kepribadian Kiai Miftah yang penulis ketahui selama ini, sungguh mengherankan jika saat ini banyak pendengung (buzzer) yang menyerang Kiai Miftah dan secara keji menuduh beliau terlibat dalam persekongkolan jahat terkait “permainan tarik tambang”.
Yang lebih mengherankan lagi, ketika sejumlah tokoh seperti Gus Nadirsyah Hosen “berubah haluan” dan hari ini menyatakan berdiri bersama Rais Aam dan dua Wakil Rais Aam, mereka pun ramai-ramai menyerangnya. Wallahu A’lam…
