Bangkalan, Radarnusantarapost
Di tengah hiruk pikuk pelantikan pengurus Ikatan Guru Indonesia (IGI) Masa Bhakti 2025-2030, sebuah deklarasi budaya dan intelektual yang signifikan telah bergema.

Dinasti Madura dan IGI resmi menjalin kerja sama strategis untuk menyingkap tabir sejarah moneter Pulau Garam, sebuah upaya vital yang bertujuan memposisikan kembali peran Madura dalam narasi kelahiran mata uang nasional, Rupiah. Peristiwa ini bukan sekadar penandatanganan dokumen, melainkan penanda bangkitnya kesadaran kolektif untuk menuntut keadilan sejarah.
Kolaborasi ini lahir dari kerinduan akut akan narasi yang utuh dan jujur.
Tujuannya adalah mengumpulkan kembali serpihan bukti otentik, mulai dari sastra kraton Madura,
catatan perdagangan lada dan garam maritim, hingga arsip kolonial yang berbisik, demi menyusun sebuah babad moneter yang akurat. Inisiatif ini dipandang sebagai jalan terang untuk mengokohkan identitas dan menyediakan materi ajar yang tak terbantahkan ke hadapan generasi penerus.

Mewakili suara otoritas numismatika, RP. Salman Alrosyid Dungmoso, Pimpinan Museum Uang Perusnia, saat di temui aqak Media Radarnusantarapost hari sabtu 13/12/2025
Beliau memberikan perspektif tajam. “Kita sering melihat sejarah mata uang hanya sebagai urusan pemerintah pusat, padahal ada sistem pertukaran nilai yang hidup dan berdenyut di setiap pulau. Koleksi kami menunjukkan bagaimana koin dan sistem barter di Madura memiliki resonansi ekonomi yang kuat, bahkan saat tekanan kolonial meningkat.
Tugas kita adalah merekam interaksi historis ini, membuktikan seberapa besar kontribusi kedaulatan ekonomi Madura telah membentuk, bahkan menantang, sistem moneter Nusantara. Inilah cara kita memahami kekayaan sejarah bangsa kita, sehelai demi sehelai,” ujarnya penuh makna.

Sambutan hangat diberikan oleh institusi pemerintah. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bangkalan menyatakan bahwa inisiatif ini adalah “jiwa yang krusial untuk mengisi ruang kosong identitas dan membentuk karakter yang teguh pada diri pelajar.” Beliau menambahkan bahwa guru-guru kini dipersenjatai dengan sumber Madura yang kredibel, memungkinkan mereka mengajarkan warisan lokal dengan martabat tinggi, yang merupakan langkah progresif dalam mencerdaskan Bangkalan.
Dari sisi adat dan budaya, Pimpinan Dinasti Madura, RM. Agus Suryo Adikusumo, menegaskan bahwa gerakan ini adalah soal harga diri. “Madura harus diakui sebagai poros perdagangan dan budaya, bukan hanya sebutan geografis penghasil garam,” tegas Mas Agus. “Pulau ini adalah arena ekonomi yang vital, meninggalkan jejak transaksi dan sistem nilai yang fundamental bagi sejarah moneter Indonesia. Kami memastikan sejarah ini disajikan dalam kejujuran total, bersih, dan berdasarkan validitas dokumen resmi.” Ia menyerukan persatuan semua pihak untuk mendukung eksistensi profesional dan historis ini.

Mendukung implementasi di kelas, Ketua IGI Kabupaten Madura, Subur, M. Pd., menekankan peran guru. “Guru adalah penabur benih ilmu. Ketersediaan materi yang akurat tentang ekonomi dan sejarah Madura memastikan siswa tidak hanya menghafal, tetapi merasakan kebanggaan akan akar mereka. Ini adalah penanaman identitas yang berbasis ilmu pengetahuan,” katanya.

Kolaborasi budaya-edukatif ini diharapkan menjadi lentera besar yang menerangi identitas historis Madura, menempatkan pulau ini sebagai simpul dinamika bu bekonomi kuno Nusantara. Ini adalah pengakuan bahwa sejarah sejati adalah fondasi paling vital untuk masa depan yang berdaulat dan bercahaya.

Jurnalis Fnd

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!