SURABAYA, RadarNusantaraPost.com – Di tengah sorotan publik yang kian tajam terhadap organisasi kemasyarakatan, DPP Organisasi Masyarakat Madura Asli Sedarah (Madas) memilih untuk berbicara dengan kepala dingin.
Ketua Umum Madas, Moh Taufik, menegaskan bahwa organisasi yang dipimpinnya berdiri untuk pengabdian sosial, bukan praktik premanisme seperti yang belakangan dituduhkan.
Pernyataan tersebut disampaikan Taufik pada Minggu (28/12), merespons berbagai framing negatif yang berkembang di ruang publik terkait aktivitas Madas.
Ia menekankan bahwa sejak awal, Madas dibentuk sebagai wadah pengabdian masyarakat Madura melalui kerja-kerja sosial yang konkret.
“Kami ini ormas yang diisi orang-orang baik. Kegiatan kami adalah kegiatan sosial,” ujar Taufik.
Sebagai bentuk nyata pengabdian, Madas saat ini mengoperasikan sedikitnya 14 unit ambulans yang melayani masyarakat lintas wilayah, mulai dari Jawa Timur, DKI Jakarta, hingga sejumlah provinsi lain.
Layanan tersebut diberikan tanpa memandang latar belakang sosial maupun ekonomi penerima manfaat.
Tak berhenti di situ, Madas juga menjalankan program di bidang kesehatan, pendidikan, serta pelatihan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM).
Organisasi ini bahkan telah mendirikan klinik kesehatan dan menyelenggarakan berbagai pelatihan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat Madura agar lebih berdaya dan mandiri.
“Kami fokus pada bagaimana meningkatkan kualitas SDM orang Madura,” kata Taufik.
Keanggotaan Madas sendiri berasal dari beragam latar belakang, mulai dari kalangan akademisi, pengusaha, hingga masyarakat dengan kondisi ekonomi terbatas.
Perbedaan tersebut, menurut Taufik, justru menjadi kekuatan untuk membangun solidaritas dan kolaborasi sosial.
“Ada yang ekonominya mapan, ada juga yang ekonominya rendah. Tujuannya agar bisa saling membantu,” jelasnya.
Menanggapi tudingan premanisme yang kerap dialamatkan kepada organisasinya, Taufik mengaku menyayangkan adanya generalisasi dan stigma negatif.
Namun demikian, Madas memilih untuk tidak bereaksi secara emosional dan menyerahkan sepenuhnya penanganan persoalan hukum kepada aparat penegak hukum.
“Kami tidak akan menanggapi dengan cara premanisme. Kami percayakan kepada aparat penegak hukum,” tegasnya.
Taufik juga secara terbuka mengakui kemungkinan adanya oknum yang bertindak di luar norma dan tidak mencerminkan nilai organisasi.
Ia menyampaikan permohonan maaf sekaligus komitmen untuk terus melakukan pembenahan internal.
“Kami akui ada oknum-oknum seperti itu. Kami mohon maaf dan kami punya itikad baik untuk terus berbenah,” ujarnya.
Lebih jauh, Madas menyatakan diri sebagai organisasi yang terbuka terhadap kritik dan saran masyarakat. Bagi Taufik, kritik bukan ancaman, melainkan cermin untuk perbaikan.
Ia juga menegaskan dukungan Madas terhadap program-program pemerintah demi kepentingan bangsa.
“Kami tidak antikritik. Kami ingin terus melakukan yang terbaik dan mendukung program pemerintah,” pungkasnya.
(Tim redaksi)
