Bangkalan.Radar Nusantara Post-
Polemik dugaan ucapan tidak pantas oleh seorang guru di SMPN 2 Bangkalan kini bergeser pada persoalan etika pemberitaan. Pihak sekolah mempertanyakan komitmen media terhadap prinsip hak jawab setelah berita tetap dipublikasikan meski klarifikasi resmi belum diberikan secara utuh.
PLT Kepala SMPN 2 Bangkalan, Ahmad Husaini, menyatakan bahwa sekolah sejak awal tidak menutup diri terhadap konfirmasi. Bahkan, saat awak media mendatangi sekolah pada Senin (19/1), manajemen secara terbuka meminta waktu 1×24 jam untuk mengonfirmasi langsung kepada guru yang disebut dalam pemberitaan.
Namun hingga keesokan harinya, Selasa (20/1), ketika pihak sekolah telah bersiap memberikan klarifikasi sejak jam dinas, tidak ada proses wawancara lanjutan yang dilakukan. Dalam waktu yang sama, berita justru telah tayang dan menyebar ke publik.
“Kami menunggu untuk menyampaikan penjelasan secara lengkap. Tapi informasi sudah beredar lebih dulu tanpa klarifikasi kami,” ujar Husaini.
Ia menegaskan bahwa kejadian yang dipersoalkan merupakan peristiwa lama yang terjadi sekitar pertengahan Juli 2025. Oleh karena itu, menurutnya, tidak ada urgensi mendesak yang membenarkan publikasi sepihak tanpa verifikasi lanjutan dari pihak terlapor.
Terkait isi ucapan guru, Husaini menjelaskan bahwa pernyataan tersebut disampaikan dalam konteks pembinaan dan motivasi kepada seluruh siswa kelas IX, bukan ditujukan kepada satu individu sebagaimana tergambar dalam narasi pemberitaan sebelumnya.
Sekolah, kata dia, bahkan telah menyiapkan langkah mediasi dengan mempertemukan guru, siswa, dan wali murid untuk memastikan fakta yang beredar diuji secara objektif. Namun ruang klarifikasi itu tidak berjalan karena pemberitaan lebih dulu menguat di ruang publik.
“Pemberitaan yang baik bukan hanya cepat, tapi juga adil. Hak jawab bukan formalitas, melainkan kewajiban etik pers,” tegasnya.
Manajemen SMPN 2 Bangkalan berharap klarifikasi ini dapat menjadi koreksi publik sekaligus bahwa pemberitaan di sektor pendidikan menuntut kehati-hatian ekstra, mengingat dampaknya terhadap psikologis siswa, guru, dan kepercayaan masyarakat terhadap institusi pendidikan.# Robin

