Bertemanlah dengan siapa pun, tetapi jangan pernah sepenuhnya percaya pada siapa pun. Kalimat ini bukan sekadar ungkapan sinis, melainkan potret jujur realitas sosial hari ini. Persahabatan kerap dipuja sebagai ikatan tulus, namun dalam praktiknya sering runtuh saat berhadapan dengan kepentingan, kekuasaan, dan keuntungan pribadi.
Banyak orang tampak setia selama situasi aman dan menguntungkan. Namun ketika posisi terancam, nama baik dipertaruhkan, atau keuntungan menggiurkan datang, wajah asli pun muncul. Pengkhianatan tidak selalu lahir dari kebencian, melainkan dari ego dan ketakutan kehilangan. Ironisnya, ia justru datang dari orang-orang terdekat, mereka yang mengetahui kelemahan dan rahasia kita.
Realitas ini memaksa kita untuk lebih waspada. Terlalu percaya adalah celah, terlalu terbuka adalah kesalahan. Dalam pergaulan modern yang sarat kepentingan, persahabatan sering kali bersifat sementara dan transaksional. Hari ini kawan, esok bisa menjadi lawan ketika arah kepentingan berubah.
Bukan berarti kita harus hidup dalam kecurigaan dan memusuhi semua orang. Berteman tetap perlu, tetapi menaruh kepercayaan harus disertai batas dan logika. Kepercayaan bukan diberikan karena kedekatan, melainkan dibuktikan oleh konsistensi sikap dan integritas.
Pada akhirnya, kehati-hatian adalah bentuk perlindungan diri. Sebab sejarah berulang membuktikan, tidak semua yang berjalan bersama akan tetap setia sampai akhir. Dalam dunia yang keras, pengkhianatan bukan kemungkinan—melainkan kepastian yang menunggu waktu.
