SURABAYA, — Radar Nusantara Pos—
Pemerintah Kota Surabaya bergerak cepat menyikapi temuan mengejutkan 15 siswa SMP yang terjerat narkoba di kawasan Jalan Kunti. Wali Kota Eri Cahyadi tak main-main. Ia menyiapkan langkah-langkah strategis yang tak hanya menangani korban, tetapi juga membabat habis sumber peredaran dan mencegah penularan ke sekolah lain.
Kebijakan pertama yang ditegaskan Wali Kota adalah pendekatan yang manusiawi dan membedakan status hukum para siswa. Bagi yang terbukti hanya sebagai pengguna, mereka akan mendapat rehabilitasi penuh tanpa dikeluarkan dari sekolah. “Mereka adalah anak-anak yang perlu kita selamatkan, bukan kita buang,” pesannya.
Namun, bagi yang terindikasi sebagai pengedar, sanksi rehabilitasi tetap berlaku, tetapi dengan pengawasan yang jauh lebih ketat. “Kita pulihkan, kita kuatkan kembali agar anak ini punya semangat lagi untuk menjadi orang yang baik,” tegas Eri Cahyadi, Jumat (14/11).
Untuk memutus mata rantai peredaran, Pemkot Surabaya mendirikan Pos Terpadu di Jalan Kunti yang dijaga tim gabungan BNN, Satpol PP, dan aparat terkait. Pos ini akan menjadi pusat komando operasi rutin di lokasi yang sudah lama dicap sebagai titik rawan. Eri mengingatkan, pengawasan ini tidak bisa instan. “Ini butuh konsistensi dan komitmen dari kita semua,” ujarnya.
Langkah pencegahan juga diperkuat. Pemerintah akan melakukan tes narkoba acak di sekolah-sekolah lain, berdasarkan data dan kajian dari BNN, untuk mencegah penyebaran yang lebih luas.
Di balik semua kebijakan teknis tersebut, Wali Kota Eri Cahyadi menyampaikan pesan mendesak kepada keluarga. “Bagaimanapun mereka ini anak yang salah asuhan. Yang terdekat adalah orang tua. Ayo kita jaga anak-anak kita,” serunya.
Kasus ini menjadi alarm keras. Namun, Pemkot Surabaya menjawabnya dengan komitmen nyata: rehabilitasi tanpa stigmatisasi, pemberantasan di sumbernya, dan pengawasan jangka panjang untuk melindungi masa depan generasi muda.
